Usia 30 tahun, Yuriko (Noriko Eguchi) bekerja sebagai terapeut aroma di salon aroma. Menggunakan minyak-minyak essensial dan tangannya, ia menghidupkan kesehatan dalam para pelanggannya. Yuriko juga memiliki sekret yang ia tidak dapat menjelaskan kepada siapapa pun; Ia sangat menarasakan aroma ketidaksejati dari seorang siswa tinggi sekolah usia 17 tahun bernama Tetsuya (Shota Someya). Tetsuya juga […]
Luxury138Luxury138
Cara Menonton Film Di Situs Kami
  • Klik "SKIP TRAILER" untuk melewati trailer.
  • Klik tombol ▶️ pada player untuk memulai film.
  • Gunakan Server 2 atau 3 jika player lambat.
  • Bookmark situs kami agar mudah diakses kembali.

Yuriko’s Aroma (2010) – IDXXI

IMDB Rated: 5.3 / 10
Original Title : Yuriko's Aroma
5.3 203

Usia 30 tahun, Yuriko (Noriko Eguchi) bekerja sebagai terapeut aroma di salon aroma. Menggunakan minyak-minyak essensial dan tangannya, ia menghidupkan kesehatan dalam para pelanggannya. Yuriko juga memiliki sekret yang ia tidak dapat menjelaskan kepada siapapa pun; Ia sangat menarasakan aroma ketidaksejati dari seorang siswa tinggi sekolah usia 17 tahun bernama Tetsuya (Shota Someya). Tetsuya juga adalah nepoti salon pemilik (Jun Miho). Sementara itu, pelanggan salon Ayama (Saori Hara) meminta untuk melatih terapeut aroma, namun intinya adalah untuk menempelkan payudara besarnya kepada Yuriko.

Ulasan untuk Yuriko’s Aroma (2010)

✍️ Ditulis oleh Rizky Aditya

'Yuriko’s Aroma' adalah sebuah film yang, terus terang, meninggalkan kesan yang mendalam dan unik setelah usai. Ini bukan jenis tontonan yang akan menggebrak Anda dengan plot twist atau aksi mendebarkan, melainkan sebuah pengalaman sinematik yang perlahan meresap, mengundang refleksi, dan memainkan indra penonton dengan caranya sendiri. Film ini berhasil menciptakan dunia yang melankolis sekaligus memikat, di mana keanehan dan keintiman berjalan beriringan. Sejak awal, 'Yuriko’s Aroma' langsung membangun suasana visual yang sangat khas. Sinematografinya terasa intim, seringkali menyoroti detail-detail kecil yang mungkin luput dari perhatian. Palet warnanya cenderung kalem, didominasi nuansa tanah dan pencahayaan alami yang menciptakan kesan realistis sekaligus puitis. Setiap adegan terasa dirancang dengan cermat, seolah sang sutradara ingin kita merasakan setiap tekstur, setiap embusan napas, dan ya, bahkan setiap "aroma" yang ada dalam dunia film. Visual yang tenang namun kaya detail ini berhasil menghidupkan narasi yang bergerak lambat, memberikan ruang bagi penonton untuk merenung dan menafsirkan setiap gestur dan ekspresi. Ada semacam keindahan yang tersembunyi dalam kesederhanaannya, membuat kita merasa terhubung dengan karakter-karakter dalam level yang lebih pribadi. Tensi cerita dalam 'Yuriko’s Aroma' tidaklah datang dari konflik yang bombastis, melainkan dari ketegangan psikologis yang halus dan perlahan. Ini adalah jenis film yang membangun ketegangan melalui pertanyaan-pertanyaan yang tak terucap, melalui kesunyian yang bermakna, dan melalui interaksi antarmanusia yang rumit. Kita diajak untuk menelusuri pikiran dan perasaan para karakter, merasakan kerentanan dan pencarian mereka akan makna. Tensi ini dibangun dengan sangat organik, tidak terasa dipaksakan, melainkan muncul sebagai konsekuensi alami dari situasi yang mereka hadapi. Ada momen-momen hening yang justru terasa paling kuat, di mana penonton bisa merasakan beban emosional yang diemban para pemeran. Ini adalah pendekatan yang membutuhkan kesabaran, namun imbalannya adalah pengalaman yang lebih mendalam dan meninggalkan kesan yang tahan lama. Kualitas akting adalah salah satu pilar utama yang menopang keseluruhan film ini. Tiga pemeran utama memberikan penampilan yang luar biasa, masing-masing membawa dimensi unik pada cerita. Noriko Eguchi menghadirkan penampilan yang begitu tenang namun memukau. Ia memiliki kemampuan untuk menyampaikan begitu banyak hal hanya dengan tatapan mata atau sedikit perubahan ekspresi wajah. Karakternya terasa membumi, nyata, dan penuh dengan kerentanan yang membuat penonton mudah bersimpati. Ada semacam aura melankolis yang ia pancarkan, namun di baliknya terdapat kekuatan yang perlahan terkuak. Aktingnya tidaklah bombastis, justru terletak pada nuansa dan kedalaman emosi yang ia sampaikan secara halus, membuat kita merasa seolah kita benar-benar melihat seseorang yang sedang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidupnya. Kemudian ada Noriko Kijima, yang membawa energi dan misteri yang berbeda ke dalam film. Penampilannya terasa lebih eksternal namun tetap terkontrol, mampu menarik perhatian penonton dengan karisma yang unik. Ada saat-saat di mana ia begitu ekspresif, namun ada juga momen-momen ketika ia menyembunyikan emosinya di balik senyuman tipis atau tatapan kosong, menciptakan lapisan-lapisan karakter yang menarik untuk digali. Ia berhasil menjadi sosok yang penuh teka-teki, namun di waktu yang sama juga terasa begitu manusiawi, menunjukkan sisi-sisi kompleks dari sebuah jiwa yang mungkin sedang mencari jati diri. Tidak kalah penting, Shota Sometani memberikan kontribusi yang signifikan dengan aktingnya yang khas. Ia memiliki kemampuan luar biasa untuk menjadi jangkar emosional dalam cerita, seringkali melalui reaksi dan observasinya yang subtil. Penampilannya terasa sangat natural, ia tidak pernah terasa berlebihan, namun setiap gerakannya, setiap kata yang ia ucapkan, memiliki bobot yang berarti. Ia mampu membangun chemistry yang meyakinkan dengan lawan mainnya, dan kehadirannya seringkali menjadi penyeimbang yang penting dalam narasi yang kadang abstrak. Aktingnya yang tenang namun penuh makna mampu membuat karakternya terasa relevan dan memberikan perspektif yang berbeda. Secara keseluruhan, kolaborasi akting dari ketiga bintang ini adalah salah satu pilar utama yang menopang narasi film ini. Mereka tidak hanya memainkan karakter, tetapi benar-benar menghidupkannya, membuat penonton percaya pada dunia yang mereka ciptakan. Masing-masing membawa gaya dan kedalaman emosional yang berbeda, namun berhasil menyatu harmonis, menciptakan interaksi yang kaya dan otentik. Tanpa akting yang begitu solid dan meyakinkan dari ketiganya, 'Yuriko’s Aroma' mungkin tidak akan memiliki dampak emosional yang sama kuatnya. Kontribusi mereka tidak hanya pada karakter masing-masing, tetapi juga dalam membangun suasana keseluruhan film, memungkinkan tema-tema besarnya tersampaikan dengan sangat efektif. Tema besar yang diangkat oleh 'Yuriko’s Aroma' terasa sangat relevan dengan pengalaman manusia secara universal. Film ini mengajak kita merenungkan tentang identitas dan bagaimana kita memahami dunia melalui indra kita. Konsep "aroma" bukan hanya literal, tetapi juga metaforis; tentang bagaimana memori, pengalaman, dan kehadiran seseorang dapat meninggalkan jejak yang tak terlihat namun kuat. Ini adalah eksplorasi tentang keunikan individu, tentang bagaimana setiap orang memiliki "aroma" atau esensi tersendiri yang membentuk siapa mereka, dan bagaimana esensi tersebut memengaruhi interaksi mereka dengan dunia dan orang lain. Film ini juga berbicara tentang isolasi, tentang pencarian koneksi dalam dunia yang kadang terasa asing, dan tentang bagaimana kita berusaha menemukan tempat kita di dalamnya. Ini adalah kisah tentang kerentanan manusia, tentang keinginan untuk dipahami, dan tentang perjalanan introspeksi yang kadang membingungkan namun penting. 'Yuriko’s Aroma' mungkin bukan untuk semua orang. Film ini membutuhkan kesabaran dan kemauan untuk tenggelam dalam alur cerita yang lambat dan atmosfer yang melankolis. Namun, bagi penonton yang menghargai sinema yang artistik, introspektif, dan mengutamakan kedalaman emosi, film ini menawarkan pengalaman yang sangat berharga. Ia adalah sebuah karya yang memprovokasi pikiran, menghibur indra, dan meninggalkan Anda dengan sesuatu untuk direnungkan jauh setelah kredit akhir bergulir. Skor akhir: 6.2/10
Sumber film: Yuriko’s Aroma (2010)

Duration: 74 min Min

TMDB Rated: 5.3 / 203

Release Date: 2010-05-08

Countries: