In 1941, orphaned sisters Thomasina and Martha create the world’s first and only chronovisor, LOLA, to discover music from the future and place bets, before realising it will best be used to help fight the Nazis. But when the sisters clash, the consequences are catastrophic. Asombrosa Elisa (2022) iLK21Ini juga keren: Nonton Healing River 2020 […]
Luxury138Luxury138
Cara Menonton Film Di Situs Kami
  • Klik "SKIP TRAILER" untuk melewati trailer.
  • Klik tombol ▶️ pada player untuk memulai film.
  • Gunakan Server 2 atau 3 jika player lambat.
  • Bookmark situs kami agar mudah diakses kembali.

Lola (2022) – IDXXI

IMDB Rated: 6.5 / 10
Original Title : Lola
6.5 665

In 1941, orphaned sisters Thomasina and Martha create the world’s first and only chronovisor, LOLA, to discover music from the future and place bets, before realising it will best be used to help fight the Nazis. But when the sisters clash, the consequences are catastrophic.

Ulasan untuk Lola (2022)

✍️ Ditulis oleh Rizky Aditya

Dalam lanskap sinema modern yang seringkali berlomba-lomba menyajikan visual megah dan cerita kompleks, 'Lola (2022)' hadir sebagai angin segar yang memukau dengan caranya sendiri. Film ini bukan sekadar fiksi ilmiah biasa; ia adalah perpaduan menawan antara ide cerdas, presentasi yang unik, dan narasi yang kaya akan perenungan. Sejak menit pertama, film ini berhasil menarik saya masuk ke dalam dunianya, sebuah dunia yang terasa akrab sekaligus asing, di mana garis antara masa lalu, kini, dan masa depan menjadi kabur. Inti cerita 'Lola' berputar pada dua saudari yang menemukan sebuah mesin luar biasa. Mesin ini, alih-alih menampilkan gambar atau suara dari masa lalu, justru mampu menangkap siaran dari masa depan. Bayangkan, di tengah era Perang Dunia II yang kelabu, mereka bisa mendengarkan musik rock yang belum tercipta, atau bahkan memprediksi balapan kuda jauh sebelum kuda-kuda itu lahir. Awalnya, penemuan ini adalah sumber hiburan dan sedikit keuntungan pribadi. Namun, ketika bayang-bayang perang semakin pekat dan mengancam dunia, ide untuk menggunakan Lola demi kebaikan yang lebih besar pun muncul. Mereka mencoba memanfaatkan mesin tersebut untuk membantu upaya perang, mengintip informasi strategis dari masa depan, dengan harapan bisa mengubah jalannya sejarah dan menyelamatkan banyak nyawa. Tentu saja, seperti hukum alam semesta yang tak tertulis, setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan niat baik seringkali bisa berujung pada dilema moral yang rumit dan tak terduga. Secara visual, 'Lola' benar-benar tampil beda. Film ini disajikan dalam format hitam-putih, menyerupai rekaman arsip atau *found footage* dari era 1940-an. Pilihan gaya ini bukan sekadar gimmick; ia adalah bagian integral dari identitas film dan berhasil menciptakan suasana yang sangat otentik. Rasanya seperti sedang menonton sebuah dokumen sejarah yang baru ditemukan, memberikan kedalaman dan bobot emosional pada setiap adegan. Visual hitam-putih ini tidak membuat film terasa membosankan, justru sebaliknya, ia menonjolkan detail dan ekspresi dengan cara yang unik, membuat kita lebih fokus pada cerita dan karakter. Sinematografinya cerdas, memanfaatkan efek analog dan tampilan kuno yang memperkuat ilusi bahwa kita sedang menyaksikan sesuatu yang 'nyata' dari masa lampau. Suasana yang dibangun terasa intim, penuh teka-teki, dan sesekali diselimuti melankoli yang pas dengan tema perang dan campur tangan takdir. Tensi cerita 'Lola' terbangun dengan sangat baik, dimulai dari rasa ingin tahu yang polos, berubah menjadi euforia penemuan, lalu perlahan merangkak naik ke ketegangan yang mendebarkan. Kita diajak merasakan kegembiraan para saudari ini saat pertama kali mengoperasikan mesin mereka, lalu perlahan melihat bagaimana keputusan-keputusan besar yang mereka ambil mulai memiliki dampak yang tak terduga. Rasa khawatir dan harapan bercampur aduk, menciptakan dinamika yang membuat penonton terpaku. Film ini tidak terburu-buru, membiarkan setiap momen konsekuensi dari tindakan mereka berkembang secara organik, membuat setiap pukulan emosional terasa lebih kuat. Para pemeran utama di 'Lola' memberikan penampilan yang patut diacungi jempol, dan menjadi tulang punggung yang membuat kisah fantastis ini terasa membumi. Emma Appleton berhasil membawakan karakternya dengan kedalaman emosional yang luar biasa. Ia adalah sosok yang awalnya terlihat lebih hati-hati dan mungkin sedikit pesimis, tetapi di balik itu terdapat kekuatan dan kerentanan yang kompleks. Ekspresinya mampu menyampaikan gejolak batin, dari ketakutan hingga harapan, dengan sangat meyakinkan. Perjalanannya dalam film ini adalah salah satu yang paling menarik untuk diikuti, dan ia berhasil membuat kita bersimpati pada setiap keputusan dan dilema yang dihadapinya. Sementara itu, Rory Fleck-Byrne memberikan nuansa berbeda pada karakternya. Ia berperan sebagai sosok yang mungkin mewakili sudut pandang yang lebih konvensional atau mungkin lebih dekat dengan realitas perang yang terjadi. Penampilannya terasa kokoh dan memberikan kontras yang menarik dengan dua karakter utama lainnya. Ia mampu menyampaikan perasaan loyalitas, keputusasaan, dan rasa tanggung jawab dengan cara yang subtil namun berdampak, membantu menyeimbangkan dinamika hubungan antar karakter. Dan kemudian ada Stefanie Martini, yang karakternya adalah otak di balik penemuan mesin Lola. Ia membawa energi yang berapi-api dan kecerdasan yang memukau. Ada semangat penemu yang tak tergoyahkan dalam dirinya, seringkali diwarnai oleh sedikit kenekatan atau idealisme yang kuat. Ia mampu menunjukkan kegembiraan saat penemuan, kekhawatiran saat konsekuensi muncul, dan determinasi yang kuat. Penampilannya adalah pendorong utama narasi, membuat kita percaya pada kejeniusan dan visi karakternya. Secara keseluruhan, kontribusi akting ketiga pemain utama ini terhadap kesuksesan film tidak bisa diremehkan. Mereka semua menyatu dengan perannya masing-masing, menciptakan hubungan yang realistis dan kompleks di layar. Akting mereka yang kuat membuat konsep fiksi ilmiah yang mendasari film ini terasa personal dan emosional, menarik penonton untuk peduli pada nasib karakter-karakter tersebut. Tanpa kualitas akting yang meyakinkan ini, 'Lola' mungkin tidak akan memiliki dampak emosional yang begitu mendalam. Mereka adalah jantung cerita, memberikan detak yang membuat narasi ini hidup. Tema besar yang diangkat oleh 'Lola' sangat relevan dan mendalam. Ini adalah eksplorasi tentang konsekuensi dari mengganggu takdir, tentang tanggung jawab etis di balik kemajuan teknologi, dan tentang seberapa jauh kita bersedia melangkah untuk mencapai apa yang kita yakini sebagai "kebaikan". Film ini dengan cerdas membahas paradoks waktu dan efek kupu-kupu—bagaimana perubahan kecil di masa lalu atau kini bisa menciptakan riak yang tak terduga di masa depan. Lebih dari itu, film ini juga berbicara tentang ikatan persaudaraan yang kuat, bagaimana cinta dan konflik bisa hidup berdampingan, dan bagaimana setiap individu menghadapi tekanan yang luar biasa. 'Lola' adalah jenis film yang akan terus membayangi pikiran Anda lama setelah kredit berakhir. Ini adalah perjalanan yang unik, sebuah eksperimen sinematik yang berhasil membuktikan bahwa dengan ide yang kuat dan eksekusi yang cerdas, sebuah film bisa meninggalkan kesan mendalam tanpa harus mengandalkan anggaran besar atau efek khusus yang gemerlap. Bagi penggemar fiksi ilmiah yang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar tontonan biasa, atau bagi siapa pun yang menghargai cerita yang provokatif dan dieksekusi dengan gaya yang khas, 'Lola' adalah tontonan yang wajib. Nilai: 6.5/10
Sumber film: Lola (2022)